post

Kenalin “BOSEH”, Bike Sharing Baru Kota Bandung!

“Bicycle bicycle bicycle
I want to ride my bicycle bicycle bicycle
I want to ride my bicycle
I want to ride my bike
I want to ride my bicycle
I want to ride it where I like”

Kali ini sebuah penggalan lirik lagu dari grup band legendaris yaitu Queen yang didalamnya terdapat lirik tentang sepeda rasanya akan cocok menjadi pengantar tulisan saya berikut ini.

Bicara tentang sepeda, Siapa yang tak kenal sepeda. Dari rakyat jelata, walikota, sampai Presiden pun konon gemar naik sepeda. Bahkan tak ketinggalan presiden kita yang sekarang yaitu Bapak Ir. Joko Widodo atau yang kerap disapa Pakde Jokowi kerap kali membagikan sepeda kepada siapa saja warganya dalam  berbagai kesempatan kunjungan kenegaraannya saat menyapa rakyatnya diberbagai pelosok negeri ini.

  

Gambar 1. Presiden Soekarno, Walikota Bandung Ridwan Kamil, dan Presiden Jokowi Sedang bersepeda dengan gaya pencitraannya masing-masing.

Sepeda sendiri bisa dikatakan sebagai alat transportasi yang unik dan spesial. Terserah mau zaman secanggih apapun saat ini atau bahkan nanti kedepannya, tetap saja secara fakta sejak pertama kali ditemukan oleh von Drais pada abad ke 18 dan terus mengalami perkembangan, sepeda tetap merupakan kendaraan yang tak lekang dimakan jaman dan masih terus digunakan sampai saat ini.

Boleh jadi hingga saat inipun, sepeda tetap saja merupakan kendaraan paling futuristik dan ramah lingkungan, karena bahan bakarnya kalori manusia, bukan minyak bumi sehingga tidak menimbulakan polusi, tidak menimbulkan kemacetan karena ukurannya yang tidak besar dan bisa melewati hampir segala medan ditambah lagi ongkosnya murah bahkan gratis.

Pada perkembangannya, meskipun ada berbagai alat transportasi baik perorangan maupun massal, sepeda tetap sulit ditinggalkan. Seiring kemajuan zaman dan meningkatnya kesadaran akan kepedulian ingkungan, muncul dan lahirlahlah apa yang dinamakan bike sharing. Bike sharing atau kalau diartikan secara bebas berarti “berbagi sepeda” , adalah sistem transportasi umum yang awalnya dikenalkan di negeri Belanda. Kesuksesannya dalam menerapkan moda tranportasi alternatif ini akhirnya diadopsi dan ditiru oleh banyak negara maju di dunia.

Di Indonesia sendiri, sebenarnya kehadiran bike sharing bukanlah suatu hal yang baru di kota Bandung. Sebelumnya pada tahun 2012 kota Bandung pernah memiliki dan mengujicoba sistem bike sharing bernama bike.bdg. Sistem yang pertama ini masih sangat sederhana, dikelola secara sukarela dan hasil dari donasi alumni ITB. Kehadiran bike sharing ini melalui bike.bdg cukup baik namun sayang terpaksa dihentikan karena sistem yang belum sempurna dan masih banyak kekurangan disana – sini.

Gambar 2. Bike Sharing yang lama di tahun 2012 bernama Bike.bdg

Seolah belajar dari segala kekurangan dan mencoba menyempurnakan sistem yang ada sebelumnya, bike sharing kini hadir kembali di pertengahan tahun 2017 dengan wajah yang baru. Dengan menerapkan sistem yang lebih kekinian yang dirancang oleh PT. Banopolis selaku pengembang, serta adanya dukungan penuh dari pemerintah Pemkot Bandung dan Dishub Kota Bandung, bike sharing di kota Bandung pun berhasil terlahir kembali dan menyempurnakannya dengan nama Bike on the Street Everybody Happy (BOSEH).

 

Gambar 3. Bike Sharing Baru bernama “BOSEH” yang berarti “Kayuh”

Boseh juga secara tidak langsung memiliki arti lain dalam salah satu terjemahan bahasa sunda berarti “Kayuh”. Boseh dirancang dengan sistem yang lebih smart di antaranya menggunakan kunci teknologi digital dan kartu khusus, saat ini Boseh sudah ada sedikitnya di sepuluh tempat di Kota Bandung dan bebas diujicoba oleh masyarakat Bandung secara gratis selama dua bulan dengan hanya membawa data identitas pribadi seperti KTP/KTM/Paspor.

Saya pun kali ini akan mencoba menuliskan review dan komentar dari diri saya pribadi tegadap kehadiran bike sharing baru di Kota Bandung ini.Tentu tak afdol jika saya tidak mwncobanya terlebih dahulu, sehingga saya memutuskan berpartisipasi secada sukarela menguji coba sistem ini.

Sebenarnya saya dan partner saya Intan, sudah ingin menjajal dan mencoba merasakan sendiri sensasi mengendarai sepeda dengan sistem bike sharing yang baru di kota Bandunng dari hari Sabtu, hari itu saya dan Intan sempat bersepeda dengan sepeda milik saya sendiri yaitu Bagio (sepeda kuning saya) dan Luci (sepeda lipat milik intan) ke lokasi. Namun begitu sampai di Booth lokasi tempat registrasi booth sudah tutup karena selama masa ujicoba dibatasi jam operasionalnya hanya sampai jam 16.00 WIB, sore hari.

Saya pun baru bisa ingin mencobanya kembali pada hari selasa tanggal 19 Juli 2017 kemarin. Kali ini saya dan Intan tak biasanya memutuskan untuk naik angkot (Angkutan Kota) menuju tempat registrasi. Kami berdua memutuskan naik angkot saat itu, karena kami pikir untuk apa kami bawa kendaraan toh nantinya kami akan menyewa sepeda dari lokasi di taman Lansia dan dapat bersepeda hingga halte bike sharing Simpang Dago yang ada disana, dan mengembalikan sepedanya di sana saja untuk kemudian kami tinggal jalan pulang ke tempat tinggal kami. Begitulah maksud hati kami waktu itu.

Kami pun naik angkot dan merasakan bahwa Angkot saat ini sudah sepi dan tak berdesak desakan seperti dahulu kala, mungkin ini adalah dampak nyata dari pengaruh transportasi online. Di satu sisi ada bagusnya juga karena angkot kini tidak lagi berdesakan seperti dahulu kala, namun disatu sisi ada rasa iba dan kasian terhadap supir angkot yang pendapatannya pasti menurun.

Gambar 4. Saya dan Intan yang naik angkot dan gambar si akang yang jagain Booth registrasi Boseh yang berbaik hati minjemin sepedanya.

Sore itu sekitar jam 15.00 WIB tibalah saya di taman Lansia, yang katanya merupakan salah satu tempat registrasi. Sesampainya disana di depan booth registrasi , tak lama ada orang yang melayani saya dan Intan. Berdasar informasi yang saya peroleh melalui media social, seharusnya saya dapat membuat kartu member bike sharing dengan membawa KTP/KTM/Paspor. Namun sayang kenyataan di lapangan berdasarkan informasi yang saya peroleh dari petugas di booth ternyata pembuatan kartu member bike sharing ini sementara hanya warga ber KTP kota Bandung yang diperbolehkan untuk membuat kartu elektronik dari boseh dan kuotanya hanya 20 orang per hari. Kebetulan saya warga ber KTP kota Medan dan ber KTM mahasiswa ITB, sehingga saya tidak dapat membuat kartu.

Namun untungnya saya tetap diperbolehkan untuk sekedar menjajalnya berkeliling diseputaran taman lansia dengan menitipkan KTM saya. Sedikit kecewa karena itu artinya saya tidak bisa menjajalnya sampai ke Simpang Dago, dan saya pun akhirnya mencobanya berkeliling seputaran taman Lansia bersama Intan.

Gambar 5. Saya dan Intan yang mencoba sepeda Boseh dengan penuh gaya pencitraan.

Penting untuk diingat sebagai informasi bagi teman – teman yang mau menjajalnya selama masa ujicoba ini, yakni peminjaman sepeda ini pemakaiannya dibatasi hanya dari pukul 09.00 WIB pagi sampai pukul 16.00 WIB sore hari, karena selama masa ujicoba sepeda masih akan diangkut oleh mobil pengangkut dan akan di simpan ditempat penyimpanannya.

Gambar 7. Stang sebelah Kiri, Sadel dan Frame, Stang sebelah kanan dan jalan raya bagi kamu yang belum tau bentuk jalan raya.

Saya pun telah test drive dan mencobanya berputar sepeda ini di sekitaran taman Lansia kota Bandung, dan berikut pendapat saya tentang sepeda Boseh yang dirancang oleh Banopolis berikut. Sepeda ini secara mendasar tak jauh berbeda dengan sepeda kebanyakan pada umumnya. Dari sisi Desain, desainnya sudah sederhana, nyaman dan cukup baik, sepeda yang dipakai untuk bike sharing di kota Bandung ini didesain dengan cat berwarna biru yang merupakan ciri khas kota Bandung.

Sepeda ini tidaklah berukuran besar dan sejenis commuter bike.  Sepeda ini dilengkapi dengan sebuah keranjang depan yang desainnya sederhana, saddle atau tempat duduk sepeda yang cukup yang empuk, sistem rem yang menggunakan cakram depan belakang, sistem pengaturan gear untuk mengatur transmisi kecepatan di stang bagian kanan, dan bel bernada “kring” yang tidak mudah dilepas oleh tangan jahil dibagian kiri.
Untuk kalian yang berbadan mungil namun ingin mencoba sepeda ini tenang saja, kalian tak perlu khawatir dan bisa bernafas lega karena sepeda ini telah di ujicoba oleh Intan yang kebetulan berbadan mungil. Sepeda ini bisa diatur ketinggian saddlenya dan dapat dikendarai oleh hampir siapa saja dengan berbagai ukuran badan. Untuk kalian yang berbadan mungil sepertinya kakinya tetap bisa menyentuh pedal dan jalan raya kok. Untuk kalian yang berbadan tinggi pun demikian karena jarak antara lutut dan setang seharusnya tidak akan terlalu mepet.

 

Gambar 7. Tenang  Jangan kuatir kakimu tidak sampai ke tanah, sepeda Boseh ukurannya tidak terlalu tinggi, sudah diuji coba sama si mungil Intan.

Menurut saya sebagai masyarakat kota Bandung yang baik tentunya ini adalah langkah dari pemerintah yang cukup positif dan harus didukung oleh segenap warganya. Sebagai langkah awal untuk memasyarakatkan budaya Bersepeda melalui sistem bike sharing, tentunya ini adalah langah yang bagus.

Tranportasi ini bisa dikatakan dapat menjadi salah satu alternatif mengatasi kemacetan jika di kelola secara serius, potensinya amat besar. Namun harus ada perbaikan disana – sini seperti pembangunan lajur khusus sepeda di jalan raya, ambil contoh di negeri Jerman bahkan ada jalan tol khusus sepeda bernaa Bike Autobahn.

Halte pemberhentian dan pengembalian sepeda juga jumlahnya harus diperbanyak, ketersediaan jumlah sepeda juga tampaknya akan menjadi kunci keberhasilan sistem bike sharing. Penempatan letak halte bike sharing juga seharusnya tersebar dan terintegrasi dengan angkutan umum lainnya, ataupun hingga menjangkau ke pemukiman.

Bayangkan saja seandainya Kota bandung  nantinya memiliki alat transportasi massal seperti MRT atau monorel, lalu transportasi itu dihubungkan oleh halte sepeda bike sharing. Maka pengguna alat transportasi massal sudah tidak perlu khawatir lagi jika tidak menggunakan kendaraan pribadi.

Gambar 8. penampakan lain dari Boseh dan sistem docking pada moncong sepeda agar kalian tak penasaran.

Selain itu jika Halte sepeda jumlahnya banyak dan terintegrasi dengan tempat pemberhentian angkot, lalu angkotnya pun dilengkapi besi pengangkut sepeda di bagian belakang angkot. Bukan mustahil masyarakat kota Bandung akan melirik menggunakan alat transportasi massal dan terwujudnya kota Bandung yang tidak macet bukanlah suatu hal yang mustahil lagi. Dengan bersepeda semua bebas macet, sehat dan bahagia. Dengan bersepeda juga kalian berarti akan melaksanakan dan mengikuti instruksi bapak presiden yang bilang “ayo sana ambil sepedanya”.

Gambar 9. Instruksi Bapak presiden yang belum menjadi perpu tapi harus ditaati dan tak boleh dibantah.

Ayo apalagi alasan kalian untuk tidak bersepeda di Kota Bandung! Bahkan cuaca dan udara di Bandung pun relatif sejuk, sehingga menjadikan Bandung sebagai kota di Indonesia yang paling nyaman rasanya untuk bersepeda.

Akhirnya setelah menjajal sepeda ini saya pun pulang kembali dengan Angkot bersama Intan, demikianlah laporan investigasi saya langsung dari lapangan dan tulisan kali inipun dapat selesai.. Hehehe

22 Juli 2017