post

Kenalin “BOSEH”, Bike Sharing Baru Kota Bandung!

“Bicycle bicycle bicycle
I want to ride my bicycle bicycle bicycle
I want to ride my bicycle
I want to ride my bike
I want to ride my bicycle
I want to ride it where I like”

Kali ini sebuah penggalan lirik lagu dari grup band legendaris yaitu Queen yang didalamnya terdapat lirik tentang sepeda rasanya akan cocok menjadi pengantar tulisan saya berikut ini.

Bicara tentang sepeda, Siapa yang tak kenal sepeda. Dari rakyat jelata, walikota, sampai Presiden pun konon gemar naik sepeda. Bahkan tak ketinggalan presiden kita yang sekarang yaitu Bapak Ir. Joko Widodo atau yang kerap disapa Pakde Jokowi kerap kali membagikan sepeda kepada siapa saja warganya dalam  berbagai kesempatan kunjungan kenegaraannya saat menyapa rakyatnya diberbagai pelosok negeri ini.

  

Gambar 1. Presiden Soekarno, Walikota Bandung Ridwan Kamil, dan Presiden Jokowi Sedang bersepeda dengan gaya pencitraannya masing-masing.

Sepeda sendiri bisa dikatakan sebagai alat transportasi yang unik dan spesial. Terserah mau zaman secanggih apapun saat ini atau bahkan nanti kedepannya, tetap saja secara fakta sejak pertama kali ditemukan oleh von Drais pada abad ke 18 dan terus mengalami perkembangan, sepeda tetap merupakan kendaraan yang tak lekang dimakan jaman dan masih terus digunakan sampai saat ini.

Boleh jadi hingga saat inipun, sepeda tetap saja merupakan kendaraan paling futuristik dan ramah lingkungan, karena bahan bakarnya kalori manusia, bukan minyak bumi sehingga tidak menimbulakan polusi, tidak menimbulkan kemacetan karena ukurannya yang tidak besar dan bisa melewati hampir segala medan ditambah lagi ongkosnya murah bahkan gratis.

Pada perkembangannya, meskipun ada berbagai alat transportasi baik perorangan maupun massal, sepeda tetap sulit ditinggalkan. Seiring kemajuan zaman dan meningkatnya kesadaran akan kepedulian ingkungan, muncul dan lahirlahlah apa yang dinamakan bike sharing. Bike sharing atau kalau diartikan secara bebas berarti “berbagi sepeda” , adalah sistem transportasi umum yang awalnya dikenalkan di negeri Belanda. Kesuksesannya dalam menerapkan moda tranportasi alternatif ini akhirnya diadopsi dan ditiru oleh banyak negara maju di dunia.

Di Indonesia sendiri, sebenarnya kehadiran bike sharing bukanlah suatu hal yang baru di kota Bandung. Sebelumnya pada tahun 2012 kota Bandung pernah memiliki dan mengujicoba sistem bike sharing bernama bike.bdg. Sistem yang pertama ini masih sangat sederhana, dikelola secara sukarela dan hasil dari donasi alumni ITB. Kehadiran bike sharing ini melalui bike.bdg cukup baik namun sayang terpaksa dihentikan karena sistem yang belum sempurna dan masih banyak kekurangan disana – sini.

Gambar 2. Bike Sharing yang lama di tahun 2012 bernama Bike.bdg

Seolah belajar dari segala kekurangan dan mencoba menyempurnakan sistem yang ada sebelumnya, bike sharing kini hadir kembali di pertengahan tahun 2017 dengan wajah yang baru. Dengan menerapkan sistem yang lebih kekinian yang dirancang oleh PT. Banopolis selaku pengembang, serta adanya dukungan penuh dari pemerintah Pemkot Bandung dan Dishub Kota Bandung, bike sharing di kota Bandung pun berhasil terlahir kembali dan menyempurnakannya dengan nama Bike on the Street Everybody Happy (BOSEH).

 

Gambar 3. Bike Sharing Baru bernama “BOSEH” yang berarti “Kayuh”

Boseh juga secara tidak langsung memiliki arti lain dalam salah satu terjemahan bahasa sunda berarti “Kayuh”. Boseh dirancang dengan sistem yang lebih smart di antaranya menggunakan kunci teknologi digital dan kartu khusus, saat ini Boseh sudah ada sedikitnya di sepuluh tempat di Kota Bandung dan bebas diujicoba oleh masyarakat Bandung secara gratis selama dua bulan dengan hanya membawa data identitas pribadi seperti KTP/KTM/Paspor.

Saya pun kali ini akan mencoba menuliskan review dan komentar dari diri saya pribadi tegadap kehadiran bike sharing baru di Kota Bandung ini.Tentu tak afdol jika saya tidak mwncobanya terlebih dahulu, sehingga saya memutuskan berpartisipasi secada sukarela menguji coba sistem ini.

Sebenarnya saya dan partner saya Intan, sudah ingin menjajal dan mencoba merasakan sendiri sensasi mengendarai sepeda dengan sistem bike sharing yang baru di kota Bandunng dari hari Sabtu, hari itu saya dan Intan sempat bersepeda dengan sepeda milik saya sendiri yaitu Bagio (sepeda kuning saya) dan Luci (sepeda lipat milik intan) ke lokasi. Namun begitu sampai di Booth lokasi tempat registrasi booth sudah tutup karena selama masa ujicoba dibatasi jam operasionalnya hanya sampai jam 16.00 WIB, sore hari.

Saya pun baru bisa ingin mencobanya kembali pada hari selasa tanggal 19 Juli 2017 kemarin. Kali ini saya dan Intan tak biasanya memutuskan untuk naik angkot (Angkutan Kota) menuju tempat registrasi. Kami berdua memutuskan naik angkot saat itu, karena kami pikir untuk apa kami bawa kendaraan toh nantinya kami akan menyewa sepeda dari lokasi di taman Lansia dan dapat bersepeda hingga halte bike sharing Simpang Dago yang ada disana, dan mengembalikan sepedanya di sana saja untuk kemudian kami tinggal jalan pulang ke tempat tinggal kami. Begitulah maksud hati kami waktu itu.

Kami pun naik angkot dan merasakan bahwa Angkot saat ini sudah sepi dan tak berdesak desakan seperti dahulu kala, mungkin ini adalah dampak nyata dari pengaruh transportasi online. Di satu sisi ada bagusnya juga karena angkot kini tidak lagi berdesakan seperti dahulu kala, namun disatu sisi ada rasa iba dan kasian terhadap supir angkot yang pendapatannya pasti menurun.

Gambar 4. Saya dan Intan yang naik angkot dan gambar si akang yang jagain Booth registrasi Boseh yang berbaik hati minjemin sepedanya.

Sore itu sekitar jam 15.00 WIB tibalah saya di taman Lansia, yang katanya merupakan salah satu tempat registrasi. Sesampainya disana di depan booth registrasi , tak lama ada orang yang melayani saya dan Intan. Berdasar informasi yang saya peroleh melalui media social, seharusnya saya dapat membuat kartu member bike sharing dengan membawa KTP/KTM/Paspor. Namun sayang kenyataan di lapangan berdasarkan informasi yang saya peroleh dari petugas di booth ternyata pembuatan kartu member bike sharing ini sementara hanya warga ber KTP kota Bandung yang diperbolehkan untuk membuat kartu elektronik dari boseh dan kuotanya hanya 20 orang per hari. Kebetulan saya warga ber KTP kota Medan dan ber KTM mahasiswa ITB, sehingga saya tidak dapat membuat kartu.

Namun untungnya saya tetap diperbolehkan untuk sekedar menjajalnya berkeliling diseputaran taman lansia dengan menitipkan KTM saya. Sedikit kecewa karena itu artinya saya tidak bisa menjajalnya sampai ke Simpang Dago, dan saya pun akhirnya mencobanya berkeliling seputaran taman Lansia bersama Intan.

Gambar 5. Saya dan Intan yang mencoba sepeda Boseh dengan penuh gaya pencitraan.

Penting untuk diingat sebagai informasi bagi teman – teman yang mau menjajalnya selama masa ujicoba ini, yakni peminjaman sepeda ini pemakaiannya dibatasi hanya dari pukul 09.00 WIB pagi sampai pukul 16.00 WIB sore hari, karena selama masa ujicoba sepeda masih akan diangkut oleh mobil pengangkut dan akan di simpan ditempat penyimpanannya.

Gambar 7. Stang sebelah Kiri, Sadel dan Frame, Stang sebelah kanan dan jalan raya bagi kamu yang belum tau bentuk jalan raya.

Saya pun telah test drive dan mencobanya berputar sepeda ini di sekitaran taman Lansia kota Bandung, dan berikut pendapat saya tentang sepeda Boseh yang dirancang oleh Banopolis berikut. Sepeda ini secara mendasar tak jauh berbeda dengan sepeda kebanyakan pada umumnya. Dari sisi Desain, desainnya sudah sederhana, nyaman dan cukup baik, sepeda yang dipakai untuk bike sharing di kota Bandung ini didesain dengan cat berwarna biru yang merupakan ciri khas kota Bandung.

Sepeda ini tidaklah berukuran besar dan sejenis commuter bike.  Sepeda ini dilengkapi dengan sebuah keranjang depan yang desainnya sederhana, saddle atau tempat duduk sepeda yang cukup yang empuk, sistem rem yang menggunakan cakram depan belakang, sistem pengaturan gear untuk mengatur transmisi kecepatan di stang bagian kanan, dan bel bernada “kring” yang tidak mudah dilepas oleh tangan jahil dibagian kiri.
Untuk kalian yang berbadan mungil namun ingin mencoba sepeda ini tenang saja, kalian tak perlu khawatir dan bisa bernafas lega karena sepeda ini telah di ujicoba oleh Intan yang kebetulan berbadan mungil. Sepeda ini bisa diatur ketinggian saddlenya dan dapat dikendarai oleh hampir siapa saja dengan berbagai ukuran badan. Untuk kalian yang berbadan mungil sepertinya kakinya tetap bisa menyentuh pedal dan jalan raya kok. Untuk kalian yang berbadan tinggi pun demikian karena jarak antara lutut dan setang seharusnya tidak akan terlalu mepet.

 

Gambar 7. Tenang  Jangan kuatir kakimu tidak sampai ke tanah, sepeda Boseh ukurannya tidak terlalu tinggi, sudah diuji coba sama si mungil Intan.

Menurut saya sebagai masyarakat kota Bandung yang baik tentunya ini adalah langkah dari pemerintah yang cukup positif dan harus didukung oleh segenap warganya. Sebagai langkah awal untuk memasyarakatkan budaya Bersepeda melalui sistem bike sharing, tentunya ini adalah langah yang bagus.

Tranportasi ini bisa dikatakan dapat menjadi salah satu alternatif mengatasi kemacetan jika di kelola secara serius, potensinya amat besar. Namun harus ada perbaikan disana – sini seperti pembangunan lajur khusus sepeda di jalan raya, ambil contoh di negeri Jerman bahkan ada jalan tol khusus sepeda bernaa Bike Autobahn.

Halte pemberhentian dan pengembalian sepeda juga jumlahnya harus diperbanyak, ketersediaan jumlah sepeda juga tampaknya akan menjadi kunci keberhasilan sistem bike sharing. Penempatan letak halte bike sharing juga seharusnya tersebar dan terintegrasi dengan angkutan umum lainnya, ataupun hingga menjangkau ke pemukiman.

Bayangkan saja seandainya Kota bandung  nantinya memiliki alat transportasi massal seperti MRT atau monorel, lalu transportasi itu dihubungkan oleh halte sepeda bike sharing. Maka pengguna alat transportasi massal sudah tidak perlu khawatir lagi jika tidak menggunakan kendaraan pribadi.

Gambar 8. penampakan lain dari Boseh dan sistem docking pada moncong sepeda agar kalian tak penasaran.

Selain itu jika Halte sepeda jumlahnya banyak dan terintegrasi dengan tempat pemberhentian angkot, lalu angkotnya pun dilengkapi besi pengangkut sepeda di bagian belakang angkot. Bukan mustahil masyarakat kota Bandung akan melirik menggunakan alat transportasi massal dan terwujudnya kota Bandung yang tidak macet bukanlah suatu hal yang mustahil lagi. Dengan bersepeda semua bebas macet, sehat dan bahagia. Dengan bersepeda juga kalian berarti akan melaksanakan dan mengikuti instruksi bapak presiden yang bilang “ayo sana ambil sepedanya”.

Gambar 9. Instruksi Bapak presiden yang belum menjadi perpu tapi harus ditaati dan tak boleh dibantah.

Ayo apalagi alasan kalian untuk tidak bersepeda di Kota Bandung! Bahkan cuaca dan udara di Bandung pun relatif sejuk, sehingga menjadikan Bandung sebagai kota di Indonesia yang paling nyaman rasanya untuk bersepeda.

Akhirnya setelah menjajal sepeda ini saya pun pulang kembali dengan Angkot bersama Intan, demikianlah laporan investigasi saya langsung dari lapangan dan tulisan kali inipun dapat selesai.. Hehehe

22 Juli 2017

 

 

Liga Baru dan Semangat Perubahan Liga Indonesia yang (Tak Jauh) Berubah, Sebuah Realita.

Hingar Bingar Liga Baru Indonesia

Kick off gelaran Liga 1 Gojek Traveloka 2017 resmi digelar,Sabtu 15 April 2017, Liga yang digadang – gadang mengusung semangat baru perubahan untuk sepak bola nasional lengkap dengan embel -embelnya yang bertajuk #ligabarusemangatbaru sudah bergulir sepekan lamanya.

Gambar 1. Gojek Traveloka Liga 1

Saya mungkin adalah segelintir orang yang termasuk cukup bersemangat dan sedikit terprovokasi menyambut liga baru ini. Terang saja, bergulirnya liga baru ini seolah menjadi angin segar bagi jagat persepakbolaan Indonesia. Optimisme, harapan dan angan tentu membumbung tinggi mengingat setelah cukup lama ketidak jelasan liga Indonesia di tahun – tahun sebelumnya akibat kisruh berkepanjangan. Baik konflik internal PSSI, dualisme liga, konflik dengan pemerintah, sanksi FIFA, dihentikannya liga dan rentetan masalah segudang lainnya yang bikin para penikmat bola geleng  – geleng kepala dan kerap kali mengelus dada.

Bagai bulan yang tiba- tiba menghampiri pucuk yang telah lama merindukannya, kini liga Indonesia 2017 hadir dan tampil dengan wajahnya yang baru. Bagai mantan yang sudah lama tak bertemu penampilan liga ini tampak lebih mentereng dari sebelumnya. Dari segi sponsor utama saja, liga ini membuat terobosan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Liga kali ini kembali dipastikan berhasil untuk tidak menggandeng sponsor perusahaan rokok sebagai mitra utamanya. Alih- alih perusahaan produsen kopi, kacang, atau minuman energi yang katanya paling joss, diluar dugaan dan tak dinyana – nyana liga ini malah berhasil menggandeng perusahaan Gojek dan Traveloka sebagai dua partner utamanya. Kontraknya pun bukan main sembarang main, dikarenakan nilainya mencapai angka 180 Miliar. 180 miliar saudaraku, andaikata dibelikan mecin, niscaya semua anak se-Indonesia akan sukses jadi bego semua. Sebuah sejarah juga karena pertama kalinya perusahan startup yang sangat kekinian mendukung penuh industri sepakbola dalam negeri yang sudah seharusnya potensial.

Itu dari segi sponsor, dari segi operator liga, liga ini juga menunjuk operator baru yaitu PT. Liga Indonesia Baru setelah sebelumnya dijalankan oleh PT. Liga Indonesia untuk Indonesia Super League, pergantian operator liga ini juga, mungkin untuk lebih mencerminkan bahwa liga ini akan tampak lebih fresh. Peraturan liga ini juga menerapkan aturan baru yaitu adanya marquee player , penerapan aturan usia pemain dan wajib memainkan personil timnas U23 yang masih terus diperbincangkan.

Begitulah sekelebat hingar bingarnya kehadiran sosok liga baru ini, sementara itu bagaimana dengan pertandingannya, bicara tentang sepakbola tentu tak lengkap dengan pertandingannya itu sendiri, untuk partai pembuka, liga ini mempertemukan antara juara bertahan sang juara bertahan ISL 2014 Persib Bandung melawan juara Piala Presiden 2017 Arema FC.

Kedua tim ini memang diprediksi sama kuat. Terlebih jika bicara tentang Persib Bandung, persib dengan nilai transfernya yang mengejutkan jagat persepakbolaan Indonesia tentu menyita perhatian lebih, nilai transfer terbesar sepanjang sejarah sepakbola Indonesia untuk menggaet mantan mega bintang dunia asal Ghana yang pernah merumput bersama Chelsea, Real Madrid, AC Milan dll yaitu Michael Essien, berhasil membuat dunia sepakbola ramai membicarakannya. Tak cuma Essien, Persib juga menggaet sosok Carlton Cole yang merupakan mantan pemain timnas Inggris. Keberhasilan Persib dalam menggaet Michael Essien dan Cole tak hanya menarik perhatian pemberitaan media dalam negeri bahkan menyita perhatian media asing. Sedangkan lawannya Arema FC sendiri merupakan tim yang solid dengan persiapan yang matang, Arema FC juga memiliki Cristian Gonzales alias si El Loco yang merupakan pemain yang kerap kali menjadi top scorer pada liga Indonesia sebelum – sebelumnya. Keberadaan partai ini seharusnha memang pantas dijadikan laga pembuka, yang akan diusung sebagai wajah baru dan cerminan liga baru Indonesia di tahun 2017.

 Gambar 2. Michael Essien

Saya sendiri bisa dikatakan sebenarnya bukan penggemar fanatik sepakbola sejati, boleh jujur, sudah lama juga saya tidak melihat langsung pertandingan sepakbola dalam negeri. Tapi kalau ditanya mengenai pengalaman untuk sekedar merasakan atmosfer menonton dan mendukung tim sepakbola kesayangan dalam negeri sudah cukuplah saya pernah merasakannya.

Sekedar informasi mengenai latar belakang saya, tim kesayangan saya mungkin bukanlah Persib Bandung, kebetulan saya seorang penggemar kesebelasan yang mempunyai julukan “Ayam Kinantan” dari Sumatera yaitu PSMS Medan, selain karena Medan merupakan kota nenek saya dan tempat saya pernah lama tinggal, tim ini juga benar – benar menjadi favorit saya, karena menurut versi saya, tim inilah salah satu tim yang punya ciri khas gaya bermain. “Rap – Rap”, permainan keras dan cepat adalah gaya bermain khas tim ini. Gaya bermain ini jika disejajarkan dengan gaya sepakbola di belahan dunia lain bisa jadi tidak kalah dengan beberapa gaya yang ada di dunia seperti “Total Football” nya negeri Belanda atau gaya “tiki – taka” nya klub Barcelona, bedanya ini gaya asli lokal dan sangat mewakili unsur kedaerahan. Saya tentu pernah dan sering menonton langsung baik kandang saat saya sekolah di masa SMA dulu, bahkan sewaktu kuliah dulu saya menyaksikan laga tandang dengan sekedar ikut – ikutan setidaknya dua kali bergabung dengan kawan – kawan dari PERSETAN (Perantau Setia Kinantan) di kota Bandung.  Jujur pertandingan tandang jauh lebih membutuhkan nyali dan kedewasaan, datang sebagai supporter pihak lawan bukan sebagai penonton biasa dengan memakai identitas yang membedakan tentu harus siap dengan resiko yang lebih besar. Kenangan menonton laga tandang PSMS Medan vs Persikabo Bogor saat babak 8 besar divisi utama di Cibinong, Bogor pada tanggal 30 april 2011 benar – benar memiliki kesan mendalam. Sempat waktu itu diwarnai oleh insiden kami hampir dilempar batu oleh oknum tidak bertanggung jawab dari pihak supporter lawan, karena tim kami berhasil memenangkan laga dan maju ke babak berikutnya.

Itu memang kisah lama, intinya kalau cuma merasakan atmosfer pertandingan sepakbola Indonesia saya setidaknya sudah cukup taulah. Sayangnya tim kesayangan saya ini sampai sekarang di tahun 2017, masih berkutat dimasalah utama yang sangat  klasik yang juga masih sama,  yang tak lain tak bukan adalah kebobrokan pengurus dan keterbatasan dana, tak pernah jauh dari itu. Padahal PSMS Medan adalah satu tim besar dari Kota Besar dari banyaknya tim lain yang terdapat di Liga Indonesia lainnya yang menurut saya gagal berinovasi dan melewati fase ambang batas perubahan di waktu yang dibutuhkan. Saat ini tim kebanggaan saya itu malah hanya berlaga di liga 2, satu kasta dibawah Liga 1. Tak ada lagi yang bisa dibanggakan saat ini dari tim ini, selain nostalgia kehebatannya dahulu. Urusan Stadion pun bahkan hanya mengandalkan stadion Teladan yang amat sangat jadul. Tim ini Terlalu larut dalam retorika lupa menyongsong masa depan yang terus berubah cepat. Tim ini juga merupakan gambaran dari banyak tim lainnya yang juga amat jauh tertinggal dari tim Persib Bandung yang melaju cepat bagai kereta peluru dan berhasil beradaptasi dengan perubahan.

Gambar 3. Saya yang pernah mendukung partai tandang PSMS Medan bersama teman – teman dari PERSETAN di Bogor

Saatnya kembali lagi pada topik utama yaitu digulirkannya liga 1 Indonesia. Momen ini akhirnya berhasil membuat saya menjadikannya sebuah momentum bagi saya untuk menonton Sepakbola Indonesia kembali secara langsung di stadion. Badan saya sukses tergerak dan terpanggil untuk menjadi saksi langsung dari sebuah sejarah perubahan Liga Indonesia 2017.
Tiket Online dan Penerapannya

Saya harus mengatakan ini sebuah terobosan yang patut diacungi jempol untuk pihak Persib Bandung, sepanjang sejarah baru kali ini saya membeli tiket pertandingan sebuah liga di Indonesia secara online. Proses nya cepat, hanya memakan beberapa menit dan tak perlu lagi antrian panjang, satu akun satu tiket, dapat potongan lagi karena mendaftar sebagai member sebelumnya. Kekurangannya adalah baru dua hari, tiket langsung ludes, untuk mendapatkan tiket tentu saja harus didukung dengan koneksi yang memadai dan bersiap dengan update an terbaru. Ada banyak pihak tentunya yang mengaku masih kesulitan mendapatkan tiket secara online, apalagi mereka yang tak terbiasa dengan cara online. Saya termasuk yang berhasil membeli tiket dengan mudah, saya membeli tiket tribun samping barat utara atas dengan harga 100 ribu rupiah satu tiketnya didiskon menjadi 80 ribu rupiah karena status member persib. Sebenarnya ada berbagai jenis tiket yang termurah di banderol 40 ribu rupiah untuk member. Tiket ini bentuknya masih E-voucher dan harus ditukarkan menjadi tiket berbentuk gelang di Graha Persib di Jl. Sulanjana pada hari H 15 april 2017 dari pukul 9.00 – 13.00 WIB untuk member, dan hari jumat dan sabtu untuk non member pada jam yang berbeda sebelum pertandingan dimulai.

Gambar 4. E – Voucher Tiket Persib Vs Arema FC

Ada banyak keluhan sebenarnya saat penukaran tiket, dari mulai panjangnya antrian dan beredarnya calo tiket. Untuk yang panjangnya antrian penukaran saya tidak merasakannya karena saya baru datang untuk menukarkan tiket pada pukul 13.00 siang, antrian mungkin sudah menghilang dan saya dengan mudah menukarkannya. Namun yang kemudian menjadi persoalan yang masih bisa saya temui adalah, keberadaan calo tiket yang bebas dan berkeliaran leluasa, bahkan di areal depan graha Persib itu sendiri. Tentu ini akan menjadi kekecewaan bagi calon penonton yang sebelumnya mengantri menukarkan tiket online.

Setelah saya mendapatkan tiket gelang yang ditukar dengan E-voucher milik saya, tak lama kemudian saya melangkahkan kaki keluar dari gedung Graha Persib. Sejurus kemudian tiba – tiba saya di hampiri oleh calo tiket yang menawarkan tiketnya. Hmm.., pikir saya,  kebetulan saya sedikit penasaran dan kebetulan lagi saya sendiri masih membutuhkan satu tiket lagi karena saya mengajak salah sorang teman wanita saya secara dadakan untuk ikut menonton pertandingan.

Dengan ajaib saya menunjukan tiket milik saya, saya bilang saya butuh satu lagi tiket yang sama tribunnya. Jreng jreng jreng jreng, simsalabim mereka para calo tiket ini punya segala macam jenis tiket yang entah mereka dapat darimana, kecurigaan adanya oknum panitia atau pengurus yang ikut bermain menjadi asumsi yang ikut menguat. Keberadaan calo ini ebenarnya sangat disayangkan, padahal diberlakukannya sistem pembelian tiket online tentu saja untuk mencegah hal seperti ini terjadi. Tapi biarlah itu menjadi bahan evaluasi bagi pihak Persib Bandung sendiri.

Tawar menawar saya dengan oknum calo pun terjadi, tanpa ba bi bu saya langsung to the point tanya harganya. Wow, saya tercengang, luar biasa ketika harganya dijual dua kali lipat dari harga aslinya. Oknum tersebut meminta 250 ribu rupiah untuk tiket yang sebenarnya berharga 100 ribu rupiah. Tawar menawar terjadi lagi, akhirnya saya mendapatkan satu tiket dengan tribun yang sama dengan harga 190 rupiah, hampir dua kali lipat dari harga sebenarnya, tapi yasudahlah mau gimana lagi namanya juga namanya mau gimana juga gimana daripada daripada mendingan mending. Itulah memang yang harus diterima karena itu harga calo, setuju ambil tidak ya sebaiknya tak usah, sebuah konsekuensi yang harus diterima dan pasti ada harga lebih yang harus dibayar. Alangkah merasa terkhianatinya orang yang membeli secara online jauh hari dan mengantri panjang bak berebut sembako pilkada.

Gambar 5. Calo tiket yang berjualan di depan Graha Persib Jl. Sulanjana

Realita Kondisi di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA)
Saya tiba di stadion GLBA sekitar pukul 6 sore lebih habis maghrib, perjalanan cukup jauh ke wilayah Gedebage, karena kebetulan sore harinya sedang hujan deras dan saya juga masih punya urusan pribadi dengan beberapa teman saya sebelum pertandingan pada siang harinya.

Saya mulai mendekati kawasan stadion,dari kejauhan stadion ini tampak megah, sayang akses menuju lokasi stadion jalannya kecil dan cukup jauh jika tidak menggunakan jalan Tol (jalan bebas hambatan). Stadion ini bentuknya sangat modern dan amat jauh dari stadion tempat saya lama tinggal dulu yaitu stadion Teladan di Kota Medan yang sudah tua, bau kencing dan bobrok namun tetap bersejarah. The best lah pokoknya. Bukan dbesto produk ayam goreng.
Saya tiba di gerbang biru bersama partner saya itu, kemudian saya berjalan lanjut ke gerbang pintu U dan V karena menurut tiket kami yang tertulis, disitulah kami seharusnya masuk. Tapi sayangnya, ketika kami sampai gerbang masuk itu malah ditutup, hanya ada antrian penonton padat dan aparat polisi yang berjaga di sepanjang gerbang dan seputarannya. Kebingungan sempat melanda saya.

Kuat keyakinan saya, pintu tampaknya ditutup sementara dikarenakan mungkin pertandingan secara tepat baru saja dimulai, terdengar suara lagu Indonesia Raya dan lagu opening pembuka pertandingan sepakbola, saya sih berpikiran, yah wajar bukankah dalam menonton pertandingan untuk mencegah kegaduhan memang begitu lima belas menit setelah kick off barulah pintu akan dibuka kembali. Namun antrian masuk begitu panjang , terdapat beberapa oknum yang terlihat rata- rata masih berusia ABG (Anak Baru Gede) yang tampak berusaha menerobos masuk, ada yang berusaha memanjat pintu Stadion ada yang ikut mengantri dan lain sebagainya. Beberapa aparat mencoba menejar oknum yang berusaha masuk secara illegal dsb, suasana menunggu pintu benar – benar mencekam, saya memutuskan tidak ikut mengantri dan keluar dari barisan, saya menjauh dari kerumunan seputaran pintu untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan. Pertimbangan saya adalah karena saya juga membawa teman wanita saya yang kebetulan menjadi tanggung jawab saya, dan dia sudah tampak cemas dan takut.

Setelah beberapa waktu setelah pertandingan dimulai, persis seperti prediksi saya pintu pun dibuka kembali. Ketika hendak dibuka segerombolan aparat datang berkelompok membubarkan paksa barisan di depan pintu bahan dengan tembakan peringatan ke udara untuk membubarkan massa. Mereka berteriak “yang tidak mempunyai tiket dilarang mendekat” kemudian antrian mendadak memecah dan yang memiliki tiket dipersilahkan masuk. Saya berhasil masuk menunjukan tiket saya yang diacungkan keatas dan menunjukannya ke aparat, boro – boro di scan seperti kata aturan dan pengumuman yang seharusnya. Saya masuk begitu saja setelah menunjukan tangan saya yang memiliki tiket. Menurut kabar sebelum ini memang ada petugas scan tiket nya, namun tetap saja banyak oknum yag berhasil masuk tanpa tiket karena di tolong aparat atau berhasil lolos dari pemeriksaan.

Gambar 6. Aturan sesungguhnya dari tiket Persib

Setelah saya masuk, saya pun tiba pada tribun bagian atas, saya lihat tribun sudah sangat penuh, hanya tersisa satu bangku di posisi yang tidak strategis dan itupun saya berikan untuk teman wanita saya, saya terpaksa duduk di anak tangga disampingnya bersama beberapa orang lainnya daan pedagang asongan yang mungkin nyelonong tanpa tiket juga.

Keadaan ini cukup sangat saya sayangkan, pelan saya mengamati dan amati sampai akhirnya saya amat yakin, kalau hampir sepertiga penonton di GBLA mungkin berhasil masuk tanpa tiket. Kuat kecurigaan saya berkata begitu, karena saya banyak melihat penonton yang tidak memakai tiket di pergelangan tangannya dandidominasi banyak bocah ABG yang nanggung. Hal ini juga dibuktikan dari saya sendiri yang tidak kebagian tempat duduk. Bayangkan saya telah mengeluarkan sejumlah uang hampir 300 ribu rupiah untuk dua buah tiket, namun untuk kebagian tempat duduk yang seharusnya sudah menjadi hak saya saja, tidak. Saya lagi – lagi cukup kecewa sepanjang pertandingan dengan keadaan ini, pudar rasa optimesme dan harapan saya yang tinggi mengenai gambaran liga baru ini.  Inikah yang katanya liga baru dan perubahan wajah baru sepakbola Indonesia. Ternyata tak jauh beda dengan liga sebelumnya, harapan saya sebenarnya pastilah sama dengan hampir semua orang lainnya, pasti kita tidak keberatan membayar lebih mahal demi keamanan dan kenyamanan tempat duduk, saya ingin adanya rasa aman ketika saya masuk stadion dengan nyaman tanpa harus merasa ketakutan terlebih dahulu. Saya ingin kondisi stadion yang ramah bagi anak – anak, wanita dan keluarga.

Lupakan sejenak tempat duduk, bagaimana dengan pertandingannya itu sendiri, pertandingan ternyata cukup membosankan, skor akhir kacamata 0-0, kalau urusan menganalisis pertandingan biarlah orang yang lain yang lebih ahli dalam menganalisisnya dan memberikan pendapatnya. Sementara yang sangat tampak dilihat dari penonton awam seperti saya ini adalah kehadiran marquee player ternyata tak banyak membantu, Essien tampil baik tapi tidak mendapat dukungan dan secara kesuluruhan permainan, pertandingan sepakbola ini masih khas dengan cara main liga – liga Indonesia sebelumnya.

Gambar 7. Suasana di Stadion GBLA

Sedikit banyak pujian saya sematkan untuk untuk Bobotoh (pendukung) Persib Bandung. Bobotoh memang luar biasa, Sebenarnya bukan hanya bobotoh, daerah lain tentu punya barisan supporter yang sama luar biasanya. Namun berbicara konteks bobotoh, tentu saja ia adalah salah satu fenomena tersendiri dalam jagat supporter di Indonesia. Saya yakin siapapun akan gentar dan bergidik merinding melihat antusiasme mereka. Mereka terbukti tetap mendukung tim kesayangan walaupun hasil mengecewakan, bisa dikatakan mereka selalu berada disamping tim apapun yang terjadi. Loyalitas dan kebanggaan mereka amat mengerikan, saya cukup terkesan dengan gerakan viking clap di akhir pertandingan saat permainan telah usai. Mereka tetap menyanyi dan menepukkan tangan ke atas kearah pemain mereka dan pemain mereka melakukan hal serupa sebagai bentuk penghormatan. Jika tak percaya soal loyalitas bobotoh mungkin sederhananya datang saja ke kota Bandung, coba amati sekitar secara ekspilit kita tentunya tak jarang menemui kendaraan pribadi yang rela dicat biru persib, digambari logo persib raksasa, ditempeli stiker persib dan berbagai barang yang mencantumkan identitas visual dari tim ini.

Benar rasanya kalau Persib bukan hanya tim kesayangan kota Bandung, tapi benar – benar menjadi tim kesayangan Jawa Barat. Sebenarnya hal ini amat menggiurkan dari segi bisnis, bagi dunia bisnis ini tentu sebuah market besar dengan segmentasi yang khusus yang pastinya sayang dilewatkan. Mungkin hal ini pula yang membuat 14 sponsor dan pemilik usaha raksasa, tak segan dan ragu untuk bermitra dengan sebuah tim sepakbola seperti Persib Bandung. Hal yang sangat berbanding terbalik lagi jika mungkin melihat beberapa tim besar lainnya di Liga 2 yang dulunya memiliki segudang prestasi namun masih kesulitan mencari dana.

Gambar 7. Suasana bobotoh di Stadion GBLA 

Sepakbola Indonesia Sebagai Sebuah Indutri Potensial

Sudah saatnya sepakbola menjadi industri, selama ada peningkatan secara terus menerus dan juga tidak cepat berpuas diri, saya yakin kedepannya cita – cita mewujudkan industri sepakbola yang menjanjikan dan professional di Indonesia bukanlah sebuah mimpi lagi. Semua tim Indonesia mungkin bisa mulai berkaca dari Persib, meski masih banyak kekurangan disana – sini seperti yang saya ungkapkan seperti diatas. Keberadaan Persib mungkin memang belum mencapai hal yang standar setara klub sepakbola dunia di belahan eropa, namun Persib Bandung tampak tengah memulainya dan mengarah kesana (industri sepakbola). Perlahan segala hal dibenahi bahkan sampai ke pendataan fans secara resmi, official merchandise dan sebagainya.

Bagaimana dengan tim lain, sayangnya tidak semua tim bisa sekinclong Persib, ambil contoh paling gampang, yang saya ketahui sajalah seperti PSMS Medan lagi  misalnya. Boro – boro punya official merchandise, jersey originalnya aja kualitasnya jelek. Boro – boro bicara membangun stadion sendiri, stadion punya pemerintah saja jeleknya minta ampun.  Boro – boro launching megah paling juga launchingnya lebih mirip kayak pesta sunatan. Boro – boro tiket online paling juga karcisnya masih sama kayak karcis naik bus kota jaman dulu. Boro – boro juga punya bus khusus mik sendiri, dan mendatangkan pemain bintang, menggaji pemainnya saja masih sering nunggak. Oalah nasib – nasib entah siapa yang harus disalahkan, bagaimana mungkin tim yang dulu konon katanya orang rela manjat pohon kelapa demi menyaksikan pertandingan, kini menjadi tim kampung yang tidak bisa menunjukan tajinya. Kalau ada yang mesti disalahkan mungkin kita sendirilah orang pertama yang harus disalahkan.

Keadaan seperti ini bukan hanya dialami PSMS Medan seorang, ada banyak tim lain yang keadaannya mirisnya seperti ini. Kita lihat apakah mantan tim – tim besar ini akan mampu mengikuti arus perubahan atau malah tergulung dan binasa oleh arus perubahan. Jangan – jangan mereka masih sibuk larut dalam retorika. Sangat disayangkan padahal Liga Indonesia seharusnya jauh lebih dinamis, mengingat demografi peserta liga berasal dari luasnya wilayah Indonesia yang memiliki banyak kebudayaan, dan masing – mqsing tim seharusnya bisa mengusung semangat kedaerahan. Luar biasa bukan kalo dibayangkan.

Liga Indonesia Baru secara pemberitaan memang tampak berkilau dan terkesan telah berubah, namun pada kenyataannya dan secara realita, ternyata tak jauh berbeda dengan kondisi liga – liga Indonesia sebelumnya. Berharap banyak boleh, memandang dengan optimis juga masi bole, tapi mengatakan liga ini adalah cerminan liga yang sudah berubah saya kira masih jauh. Masih banyak penonton yang bertindak kampungan dengan menerobos stadion, masih banyak calo tiket, masih banyak ributnya, masih banyak lapangan yang tidak standar, masih banyak main hakim sendiri, masih kurangnya fasilitas latihan tim, dan masih – masih banyak kata masih lainnya yang tidak habis ditulis dalam selembar kertas.

Saya juga memaklumi sebuah perubahan liga tidak bisa langsung simsalambim ulalalabamba langsung berubah, namanya juga perubahan pasti ada proses yang harus dilewati, pasti ada gejolak, pasti ada yang harus dikorbankan. Namun mau berapa lama kita harus menunggu sampai benar –  benar bertransformasi.

Kesimpulan dari saya adalah,  memang benar, kehadiran baru liga ini secara perlahan berjalan kearah perubahan yang lebih baik, namun perubahannya saya rasa berjalan sangat lambat. Bagaimana bisa mereka mengklaim ini liga dengan semangat perubahan sementara yang saya rasakan secara pribadi, liga ini masih tak ada bedanya dengan liga – liga sebelumnya. Semua liga sebelumnya juga mengalamai perubahan kearah yang lebih baik kok. Nah seberapa cepat tepat dan efisiennya prosesnya, itu yang menjadi kunci persoalan. Saya lebih berharap perubahan yang lebih dari ini, saya ingin merasakan perubahan yang lebih massif (meminjam kata milik prabowo). Kita butuh perubahan yang lebih untuk mempercepat prosesnya.

Kalau perubahannnya hanya berjalan lambat seperti ini, dikhawatirkan perubahan liga tak jauh dari liga sebelumnya.  Sehingga saat ini saya merasa liga yang digadang – gadang liga baru dan liga perubahan ini masih jauh dari kata itu sendiri dan masih kurang tepat dengan kesesuaian slogannya.

Saya selalu yakin liga Indonesia yang dikelola secara professional dan modern akan menghasilkan tim professional yang luar biasa berguna bagi Nusa dan Bangsa.  Liga yang benar – benar unik karena terdiri atas beraneka ragam kekayaan sejarah dan budaya yang kuat dan mengakar beserta sifat kedaerahannya. Saya selalu yakin potensi sepakbola kita  sebenarnya bisa lebih hebat dari pada J-League (liga Jepang),bahkan J-League sendiri pada awalnya meniru format loga kita di era galatama. atau bahkan sebenarnya liga kira bisa professional setara Liga di Eropa. Besar harapan sepakbola di negeri ini akan menjadi sebuah Industri yang luar biasa yang bisa menyumbang lebih banyak bagi kemajuan negara bangsa yang (konon) besar ini, bangsa Indonesia.

Begitulah kura -kura.