post

Karena SMA, Persahabatan Itu Ada (Part 2)

bale hitam putih

gambar 1. (kiri-kanan) : aulia, fina, haris, hani, dewi, saya, dan rifqi

Mari kita langsung mulai saja part 2 nya. Bila kalian punya keinginan membaca part 1 nya lagi boleh silakan klik disini.

Setelah saya menceritakan tiga makhluk sebelumnya, kini tiba saatnya saya berbagi kisah tentang tiga mahkluk berikutnya agar saya tak perlu dicap tidak adil, oleh mereka yang ingin menyebut saya begitu dan tentu saja oleh yang belum kebagian.

4. Haris Abadyah (Haris/Keling)
Haris Abadsyah bukan Haris satu Abad seperti kata Bu Lin, wali kelas kami. Lahir tanggal 30 oktober 1991, kukira ia lahir saat langit sedang gelap gulita, karena warna kulitnya berwarna gelap dan eksotis. Meskipun begitu untunglah hatinya amat terang benderang cerah berbinae, semoga saja begitu hehe.

Keling adalah nama lain dari Haris, sebagaimana ia sering dipanggil kalau kami sedang kesal. Keling pindah ke kelas kami di kelas 2 SMA XI IPA 8 asalnya dari kelas X-10. tidak seperti para pesulap, sebenernya kami sudah pernah kenal sebelumnya. Oleh sebab saya se-organisasi dengan dia. So.. He is the funniest guy, dia adalah manusia penguasa seni melipat tubuh, bareng dia saya main bola ujan ujanan disekolah, bareng dia saya main game Gunbound di X-EZ busuk net di warnet punya Twopig, bareng dia kami main futsal di STM, dan untuk bareng yang satu ini adalah bareng yang cukup saya ingat karena bareng dia, saya pernah merasa senasib hanya karena sebuah lagu kebangsaan negeri kita.

haris dan saya

Gambar 2. itu saya yang digendong sikeling sebelum saya dimangsa bocah berbaju pramuka

Saya cuma masih tidak habis pikir, karena pikir tidak mungkin habis. Permasalaahan kali ini adalah bagaimana mungkin lagu kebangsaan negeri kita, malah mendatangkan malapetaka bagi saya dan Keling. Singkat cerita kebetulan kami baru selesai upacara, kami kembali ke kelas kami duduk sejajar di bagian belakang kelas yang memiliki kaca yang bolong. Oleh sebab masih terpengaruh suasana upacara, kami yang baru masuk kelas dan duduk di bangku belakang masih bercanda-canda, ntah siapa yang memulai saya sudah lupa, yang jelas antara saya, Keling atau Azri mulai mencoba mengejek dan menirukan gerakan seorang dirigen upacara tadi pagi sambil menggerakan kedua tangan dan menirukan gayanya lalu bilang 1..2..3 kemudian saya dan keling pun menyanyikan lagu indonesia raya. Sebenarnya saya barulah menyanyi bagian awalnya saja, cuma kebetulan kecepatan suara saya yang sampai ke telinga si Bu guru lebih lebih cepat dibanding biasanya. Terdengarlah itu suara kami ke telinganya.

Belum lagi kami sampai pada bagian akhir lagu yang menyatakan bahwa negeri ini, adalah negeri yang merdeka, tiba-tiba sudah terdengar saja suara berikut.

“Haris, Aria kedepan!”, JEGER… sontak kami terkejut, tampaknya kebetulan sosok tersebut hapal nama kami, dan begitulah suara yang terdengar, yang ternyata berasal dari sosok si Bu guru yang duduk didepan.

Celaka tiga belas bagi saya dan Keling, kami pun mencoba saling mengelak sejenak, saling tunjuk-tunjukan dan yang berujung kemudian pasrah. Mau tidak mau disitulah kami,ke depan kelas menemui si Bu guru. Kami masih berusaha menolak dan berkelit, dan hasilnya… disanalah kami  disuruh berdiri dengan satu kaki di depan kelas disamping meja guru disebelah papan tulis. Bukan berarti sebagai manusia kami adalah makhluk yg tak bisa berdiri menggunakan dua kaki, saya yakin si Bu guru pun sudah mengerti akan hal itu. Tapi apa boleh buat, itulah hukuman yang kami peroleh sepanjang pelajaran biologi sampai pelajaran usai.

Ah percayalah Bu guru kalau cuma hukuman seperti itu yang bisa ibu berikan kepada kami, itu pasti terlalu ringan buat kami dan menurut aaya itu amat kekanak – kanakan, meskipun apa yang saya lakukan bersama dengan si Keling sebelumnya merupakan hal yang kekanak-kanakan pula.

Saya rasa bukan hukuman itu yang membuat kami sadar, dengan hukuman semacam itu yang didapat mungkin hanya rasa kesal. Hal yang membuat kami sadar malah ucapan ibu itu setelahnya. Entahlah dengan si Keling, tapi jujur, saya sempat sejenak tertegun. “Kalian ini kalo upacara, disuruh nyanyi tidak nyanyi, sekarang lagi pelajaran ga ada yang nyuruh kalian malah nyanyi, apalagi kalian inikan kebetulan anak BKM, seharusnya jadi contoh dikelas”, ucapan itu sungguh jauh menusuk kalbu dibandingkan acara Mama Dedeh bersama Abdel  di pagi hari, percaya deh. Perkara organisasi BKM malu atau tidak, kurasa organisasi itu malah harus bangga pernah menghasilkan kader yang membuat organisasi itu jauh lebih hidup. Yang pasti, ucapan itu membuatku malu sebentar, dan sampai sekarang buktinya masih saya ingat untuk kemudian terkadang lupa dan melakukan tindakan lainnya bersama si Keling ini.

Saya juga banyak kenangan bersama – si Keling yang dulunya botak, seperti seorang Dalsim dari serial mortal kombat ini, termasuk disaat anak-anak lainnya yang seusia kami ramai-ramai mendirikan komunitas di sekolah, baik komunitas motor, komunitas kelas, komunitas yang penting komunitas lah, tapi kami berdua memutuskan menjadi berbeda, kami malah bikin Partai. Partai Gerandra namanya.

Sekilas Gerandra (Intermezzo) 

Terinfluence oleh iklan partai yang terkenal dengan slogan Macan Asia berlambang kepala garudanya milik Prabowo, yang saat itu sangat tren karena diputar secara terus menerus sebagai sarana cuci otak. Saya pun akhirnya memutuskan mendirikan Partai Gerandra. Gerandra merupakan akronim dari kata Gerakan Smandu Raya, partai ini murni saya dirikan dengan serius atas dasar keisengan semata. Partai ini juga telah diakui, setidaknya oleh kami sendiri.

Saya mencalonkan diri sebagai ketuanya dan Keling .. tentu saja saya rekrut sebagai wakilnya. Visi dan misinya jelas, agar seluruh rakyat Sekolah SMAN 2 bisa bahagia dan bebas menikmati masa SMA nya di sekolah ini dengan cara mereka masing-masing, bagi siswa yang kebahagiannya adalah cabut sekolah untuk kekantin kami mengupayakan agar bisa tetap demikian dan semoga mereka tidak tertangkap guru, bagi yang kebahagian SMAnya adalah untuk pacaran kami mempersilahkan agar silahkan berpacaran asal jangan menimbulkan cemburu, bagi siswa yang suka mengerjakan PR disekolah agar tetap pula bisa demikian dan semoga tetap tidak ketauan. Dan kebahagian masing-masing lainnya yang tentu saja berbeda. Siapa yang tahu orang bisa bahagia karena apa, bukankah begitu bukan.

 

Kalian bisa bayangkan, mungkin inilah partai ideal, dan hanya partai kamilah yang tampaknya mampu menampung segala aspirasi, menjamin kebebasan dan keinginan masyarakatnya. Ini foto saya dan haris diedit dengan sederhana waktu itu masih adobe photoshop 7.0.

laris

Gambar 3. Gerandra, adalah partai yang saya dirikan bersama Haris.

Sesuai tujuan tampaknya partai kami ini berhasil menjalankan fungsinya, atau jangan-jangan tanpa adanya partai inipun, tampaknya masyarakat smandu raya, juga tetap bisa demikian. hehe

Jika bicara secara organisasi resmi disekolah, si Keling ini termasuk pejabat, dia berhasil menjabat sebagai anggota MPK (Majelis Perwakilan Kelas, semacam lembaga MPR di negara ini. dan saya sendiri di OSIS terpilih sebagai Ketua ROHIS.

Boleh kalian tepuk tangan sekarang, asal kalian tidak malu bila ada teman yang kebetulan disamping kalian dan melihatnya. Hal ini perlu dan menurut saya juga tidak berlebihan. Soalnya bayangkan, diantara 12 kelas seangkatan, masing-masing kelas terdiri dari 30 orang dengan jumlah murid 70 % nya muslim, dan diantara itu tentu banyak orang yang jauh lebih alim dari saya, tapi ajaibnya malah saya yang terpilih sebagai ketuanya, kesannya SMA Negeri 2 Medan saat itu benar-benar kekurangan orang alim. ckckc Hidup ROHIS.

Namun itu sekaligus membuktikan, bahwa pergerakan mesin partai kami ini berhasil, dan meski tidak ada orang lain yang mengetahuinya kami setidaknya berhasil menciptakan sebuah tindakan konspirasional. Hehehe.

5. Aulia Rahman (Aulia)
“Aulia” begitu nama depannya dan begitu pula ia biasa dipanggil. Atau cukup panggil “Aul” , begitu kalo kalian males berpanjang lebar untuk sekedar memanggil dan menyebutkan nama depannya. Atau cukup dengan mengeluarkan suara “Ol” yang merujuk kata “Aul” bila kau benar-benar seorang pemalas tulen yang terlalu malas untuk menyebutkan namanya, dan itu yang sering saya lakukan.

1916235_1242161449294_4103370_n

Gambar 4. Aulia sedang menyamar menjadi anak SMA dan berpura-pura sibuk memegang hape.

Tapi karena ini bersifat tulisan, bukan bersifat baik dan penyabar serta penuh kasih sayang, jadi saya tidak akan menyebutkannya dengan nama “Ol”, hal ini sungguh saya lakukan agar kalian mudah mengerti, karena kebetulan saya mau menjadi orang yang perhatian kali ini. Jadi Aulia ini lahir tanggal 27 oktober 1991, anak ke-3 dari 4 bersaudara yang semuanya laki-laki. Rumahnya juga masih diplanet bumi, di sebuah jalan yang bernama Lukah, didaerah Amplas, di sebuah kota di Indonesia yang bernama Medan.

Menurut hemat saya, kasus dia bisa berteman dengan saya cukup aneh, karena selama 3 tahun di SMA, dia sebenernya tidak pernah satu kelas dengan saya. Aulia adalah anak Kelasa IPA-3, bisa gabung dengan kami awalnya karena dia temennya si Haris.

Kebetulan kami akrab karena main game bareng, kayaknya. Bareng dia juga dulu kami sering main futsal, kami ajak dia tentunya untuk menambah anggota yang ikut patungan, akhirnya keterusan, main badminton bareng, pergi nonton bareng kita dan lain-lain, kebetulan dia selalu bersedia kalau diajak ikut, sampai ketika ada acara jalan-jalan kelas kami. Kebetulan kelas IPA-8 yang notabene adalah kelas saya, bukan kelas si Aulia mengadakan kegiatan jalan-jalan bareng sehabis UAS.Dan dia, si aulia inilah yang  juga ikut acara kelas kami.

Begitulah Aulia, mungkin dia adalah pengkhianat bagi kelasnya, seperti kata yang terdengar dari beberapa orang di kelasnya yang diucapkan sambil tertawa, tentu kita semua berharap semoga saja ucapan itu masih bermaksud sebatas candaan. hehe. Intinya mungkin Aulia adalah seorang pengkhianat tapi dia adalah sahabat yang baik bagi saya dan sahabat yang baik bagi kami. hehehe.

Kebetulan juga ternyata dia tertarik dengan salah satu teman cewe di kelas kami, yaitu si Dewi. Kisah dia dan Dewi mungkin lebih baik saya bahas di part Dewi saja. Kalo disini juga, takutnya nanti jadi panjang tulisannya, kalo panjang ceritanya takutnya kalian jadi males bacanya, kalo males baca takutnya nanti kalian jadi gatau ceritanya, kalo kalian gatau ceritanya ya buat apa saya cerita ke kalian, tau gitu daripada saya cerita ke kalian mending saya tulis kayak gini. Kalo udah saya tulis tapi kalian ga mau baca juga. Ya jadi bukan salah saya lagi kan, salahkan saja macet di simpang johor, karena memang dia selalu bisa disalahkan atas semuakesalahan dan keterlambatan.. yaudah ya.. ya gitu.. yakan. Saya harap sampai bagian ini kita bisa saling setuju.

Kisah yang paling saya ingat dengan Aulia yang paling membekas dalam ingatan tentu saja kisah aksi saling diam antara saya dan Aulia. Saya pernah berantem sama dia, saya saling tidak ngomong sama dia dalam waktu cukup lama, saya lupa berapa lama pastinya tapi sebulan sih kayaknya ada.

Mungkin saya dulu orangnya entah kenapa gitu sih, kalo ga suka sama orang, daripada saling pukul dan baku hantam, saya lebih pilih ngediemin. Mungkin sayanya dulu terlalu keras kepala dan terlalu kukuh terhadap sikap yang saya ambil. Mungkin karena saya belum cukup dewasa dalam mengontrol amarah. Mungkin karena saya dulu masih anak SMA, yang emosinya meledak-ledak, atau mungkin memang si Aulialah yang dulu memang ngeselin, sehingga emang pantesnya didiemin.

Walaupun terlalu banyak kata “mungkin” yang bisa digunakan, dan mungkin saja jawaban paling tepat adalah kemungkinan yang terakhir, tetap saja saya sekarang harus akui ke kalian kalau perilaku saya dulu itu tidak baik. Saya dulu lupa pesan nabi bahwa memutus silaturahmi itu tidak boleh, apalagi sampe lebih 3 hari. Tuhan tidak suka, dan tentu saya juga tidak suka bila Tuhan jadi tidak suka dengan saya. yee Hidup tuhan!

Anehnya meski kami berdua pernah melakukan aksi saling diam, entah kenapa kami selalu terjebak disituasi yang mengharuskan kami tetap saling bertemu dan tetap main bareng malah. Hahaha entah karena memang masing-masing tidak punya kunpulan teman lainnya, atau memang masing-masing kami sebenernya tahu bahwa kami sebenernya ditakdirkan untuk berteman bukan bermusuhan. Lagi-lagi entahlah saya a lagi males cari tau, kalian saja yang cari tau kalau kalian mau, yang jelas suasana saat itu sungguh aneh bagi saya.

Meski saya sedang punya masalah dengan si Aulia saat itu, tapi saya tidak menghasut teman untuk ikut memusuhinya. Dari dulu sih saya gitu, urusan pribadi ya urusan pribadi tak perlulah mengajak orang lain untuk ikut membenci. Makanya teman-teman lainnya memperlakukan kami dengan sama, kalau misal satunya (aulia atau saya) diajak ya pastinya satunya lagi ya ikut juga.

Karena situasi itu, kadang Teman-teman lain mungkin merasa kalo kita tidak sedang bermasalah dan tidak kekurangan, masing-masing pun tidak memihak sehingga kegiatan main bareng seolah tidak terganggu, maka situasi aneh itu cukup dibiarkan dalam waktu yang cukup lama. hehehe.

Salah satu contoh nyata yang cukup akward adalah ketika main game bola yaitu PES (Pro Evolution Soccer) di Komputer ataupun di PlayStation rame-rame. Biasalah , seperti anak-anak generasi saya dulu kami sering mengadakan kompetisi head to head kecil – kecilan.

Untuk menjadi juara dalam kompetisi PES tersebut, seperti biasanya masing-masing harus saling mengalahkan untuk maju ke babak berikutnya, lalu disitulah akan selalu kejadian peristiwa seperti ini.

JENG.. JENG.. JENG..

DRUM..DRUMM.. TAK..

bunyi gemuruh di hati saya yang laksana pemain kosidah,

Adalah sudah tiba posisi dimana antara aku dan aulia yang mengharuskan tim sepak bola kami harus saling berhadapan satu sama lain.

Saya berusaha sok cool dan mengambil stik PS..

setelahnya  Aulia ternyata  tak mau kalah, ambil stik juga dia.

Kemudian kami memilih tim favorit masing-masing, tim saya apa ya paling kalo ga Liverpool ya BArcelona, lalu kami mengatur strategi sampe kickoff semua dilakukan tanpa ada pembicaraan dan suara yang keluar dari mulut kami. Kawan-kawan yang lain tentu saja sudah mulai tertawa kecil-kecilan.

KICKOFF pun dimulai! wasit dalam komputer sudah membunyikan peluitnya..

saya memilih diam.

pertandingan pun dimulai..

Saya memilih diam.

Hening.. hening dan hening… begitulah permainan kami, padahal bila berhadapan dengan orang lain saya ributnya bukan main dari mulai kata ejekan, kata kasar, nyanyian ketika gol, ekspresi terkejut ketika membentur tiang, wasit yang ga adil padahal dia komputer. Ya pokoknya semua yang biasanya saya lakukan sangat ekspresif kini bertolak belakang menjadi diam dan bersahaja, sementara yang lain terus menggoda dan mengejek kami. Begitu sampe permainan berakhir dan bila berakhir saya merasa lega. Itulah gambaran yang terjadi saat itu, dan itu adalah hal konyol bila saya mengingat perbuatan kami waktu itu.

Demikian juga saat main badminton, karena kami seringnya main ganda, saya biasanya tidak mau berpasangan dengan aulia, tapi kami tentu harus saling berhadapan dan gitulah, tidak jauh berbeda situasinya dengan saat main game bola. Malah menurut saya, saat main badminton ekspresi kesal masing-masing mungkin tersampaikan, jadinya malah sering tercipta permainan apik. Hahaha.

Tsubasa Ozora butuh Hyuga sebagai lawan, dan Taufik Hidayat butuh Lin Dan sebgai saingannya. Begitulah mungkin penjelasan dan cocokologi yang bisa masuk akal bila menghubungkan antara saya dan aulia waktu itu.

Kalian tentu sudah bisa membayangkan betapa anehnya situasi perang dingin saat itu. Hubungan yang cukup aneh memang. Tapi itu dulu. Semenjak saya berdamai dengannya karena kami pun sama-sama menyerah dan saling bersalaman minta maaf satu sama lain, hubungan pertemanan antara saya dan Aulia malah menjadi sangat – sangat baik, hingga seolah rtidak pernah ada kejadian ini. Malah kalau ditanya jaman sekarang sudah terbukti dia selalu ada buat saya. Hidup perdamaian. Hidup Aulia. Hidup Saya. Hidup Amerika. Hidup Nigeria. Hidup Maladewa. Hidup Semuanya.

6. Dewi Agustina
Dewi Agustina Napitupulu begitu nama yang tertera dalam buku absen di sekolah, nama yang sama yang juga tertera pula dalam buku sakral lainnya yaitu buku uang kas kelas.

Dewi ini lahir 19 Agustus 1990, Dewi ini memang sekelas kami, tapi bisa jadi sering main bareng sih saya jujur saja. Karena dulunya boleh kalian tau, dia adalah pacarnya Aulia saat SMA. “Kiww.. Kiw.. Cie..” begitulah suara burung dari jenis yang belum diketahui pasti. Hmm tapi itu dulu ya .. kalau sekarang, Oke deh saya tulis mantan berarti.

Dewi ini rumahnya di dekat Stadion Teladan, di Kota Medan. Entah teladan bagi siapa itu stadion, tapi yang paling mungkin adalah teladan bagi kota Medan. Stadion Teladan itu stadion yang cukup tua dan bersejarah bagi kota ini. Pernah menjadi stadion kebanggan dan menjadi salah satu yang terhebat dijamannya saat dulu dia baru dibangun, namun kini sudah tidak bisa lagi, sudah saatnya kota ini harusnya membangun yang baru agar punya stadion kebanggaan yang lainnya tanpa melupakan Stadion ini juga. Ya rumah pokoknya rumah si Dewi ini dekat dengan stadion ini, dari stadion ini kamu terus saja ambil jalan pelajar terus sampai simpang melewati banyak orang jual durian, lalu berbelok pada gang sehat yang ada gerejanya. itulah rumah si Dewi bila kamu ingin tahu. kalau kamu inginnya tempe, itu sih paket komplit.

Dewi ini kebetulan punya mata dua, telinga dua dan satu buah hidung tapi punya duadua lubang di hidungnya. Sama seperti kebanyakan anak SMA lainnya. Yang membedakan dengan anak SMA lainnya itu ialah, Dewi ini disekolah adalah anak paskibra. Paskibra itu Pasukan Pengibar Bendera yang selalu latihan lari di lapangan basket sekolah meski hujan badai dan panas terik matahari. Begitu isi lagu yang sering dia nyanyikan kalau dia sedang latihan rutin bersama teman-teman paskibranya yang selalu siap menyapa dengan senyuman ramah indomareet bila ada seniornya yang lewat.

Oke karena ini part nya Dewi, seperti janji saya di part Aulia, saya akan menceritakan tentang awal kisah cinta mereka di SMA.

Kisah kasih mereka di sekolah mungkin tidaklah sampai malu pada semut merah yang berbaris di dinding dan menatap curiga. Karena bila ada semut yang menatap curiga, kalau ada semut seperti itu di dunia nyata sih saya rasa hal itu cukup menyeramkan.

jadi begini ceritanya. Bismillah… semoga nggak banyak salah, kalau masih banyak salah yasudah saya mohon saya dimaafkan, tapi setidaknya untung saya sudah bismillah hehe.

Ujug-ujug ternyata Aulia dan Dewi sering berkomunikasi sebelumnya via handphone. Ujug-ujug juga ternyata kita berhasil tahu kalau Aulia ada punya rasa sama Dewi. Ujug-ujug mereka belum jadian dan entah kenapa sebagai teman yang mengetahuinya kami ingin bikin mereka jadian.

Layaknya anak SMA lainnya yang hobi menceng-cengin orang, ya menceng-cengin orang bisa dimasukan kategori hobilohdi CV/Riwayat hidup kamu saat kamu ingin melamar kerja. Saya peringatkan, bisa itu bukan berarti baik ya. Saya gatau layak atau tidak, tapi yang saya mau cerita bahwa kini tibalah hari sakral itu. Hari itu adalah hari dimana kami telah membuat rencana sepulang sekolah.

Hari itu seusai kami pulang sekolah, kami sudah merencanakan pergi makan siang bareng. Kami bawa mereka makan ke warung makan Lubuk Arai, bila kalian ingin tau tempat ini dulunya terletak di sebelah kiri Waroeng Steak yang ada di Jl Dr. Mansyur bila kau datang dan bergerak dari arah pintu I USU. Jualannya menu utamanya ikan bakar kalau ga salah. Sekarang itu tempat kenangan, sepertinya sudah tutup

Kami pun pergi hari itu, di Lubuk Arai kami tak mampu berbuat banyak karena keduanya memilih bungkam dan kami seolah menyerah karena hari sudah petang. Kami pergi dan pulang naik mobil Hani, duduk didepan Hani dan Fina. Duduk di belakang saya, Haris dan Rifqi, Rela saya duduk sempit-sempitan, karena tentu saja seperti yang kalian bisa duga, bangku tengah sudah kami siapkan untuk kedua calon mempelai. Dewi dan Aulia.

Didalam mobil saat  perjalanan pulang kami pun belum menyerah, kami pun masih berusaha menceng-cengin Aulia dan Dewi sampai kami tertawa puas, hari yang cukup membahagiakan terutama bagi saya, Haris dan Rifqi yang tak berhenti tertawa dan mengejek mereka berdua. Namun tentu hari yang buruk bagi Dewi dan Aulia yang melihat tingkah kekanak-kanakan kami. Masa bodolah yang penting kami saat itu gembira dan bisa bahagia.Terimakasih mobil Hani, terimakasih hari ini hahaha

Kami bernyanyi dan bermain di mobil sambil sedikit-sedikit tetap mengkaitkan dengan Dewi dan Aulia. Terutama si Keling dampai entah gimana ketika kami bermain lagu sepotong roti isinya mentega, si Haris keling merubah lagunya. ini saya kasih tau dulu lirik aslinya :

“sepotong roti, isinya mentega.Belanda sudah mati, ditembak Amerika. dst”

Lagu yang seharusnya begitu, kini sudah diaransemen kembali oleh keling menjadi…

“sepotong roti, isinya mentega. Belanda sudah mati, ditembak .. eh rusak kasetnya .. tembak ..tembak tembak.. tembak tembak tembak ” (terus begitu dan semakin dipercepat temponya malah)

Hari itu Dewi dan Aulia benar-benar tidak bisa berkutik, mati kutu dia, kuyakin dalam hati mereka sudah berteriak cepatlah berakhir, namun Aulia juga memilih tidak segera menyatakan perasaannya pada Dewi di depan kami.. sampai semuanya mesti pulang ke rumah masing-masing. Eh tau-taunya sepulang kejadian itu tak berapa lama mereka katanya resmi jadian. Sial, saya dikelabui ternyata.

Begitulah cerita tentang bagaimana kami bisa punya satu pasangan di grup ini, dan sayangnya kisah pasangan ini mungkin tak berlangsung lama. Sampai suatu kejadian yang memaksa mereka harus putus. Dan itu mah beda lagi ceritanya, saya rasatanya mereka saja soalnya itubukan urusan saya lagi hehe.

Tapi harus diakui mereka hebat, karena setelah mereka putus mereka tidak perlu saling musuhan dan saling membenci, malah mereka jadi bisa berteman dengan baik. Setelah itu, Dewi juga malah lebih bisa diterima sebagai bagian dari kami. Setelah lulus SMA dan kuliah di pulau Jawa saya pun jdi masih sering main bareng sama Dewi, ke Jogja kita bareng, ke Wonosobo, ke Bandung , ke Pangandaran, Ke kamar mandi tentu tidak, ya gitulah intinya. Dia mungkin paling akhir bergabung dengan kami, tapi Dewi tetep salah satu bagian dari kami itu rasanya sudah berlangsung bahkan sampai hari ini. So sweet hehe

IMG_9721

Gambar 5. Candi borobudur yang lagi mau foto bareng saya dan dewi

Entah bagaimana dulu grup kami tersebut akhirnya punya nama, namanya BALE (Bagay Lebay). Bagay itu Banyak Gaya, Lebay itu Berlebihan. Yaitulah bila ada diantara kalian yang mau tahu arti bahasa jaman dulu.

Nama Grup ini dideklarasikan secara resmi oleh kami tepatnya di Mall Grand Palladium yang terletak didepan lapangan benteng, di Medan.

Bale Koped

Gambar 6. Foto resmi setelah grup Bale terbentuk di parkiran palladium foto diambil oleh Hanny secara bergantian

Nama BALE itu pun bahkan kadang-kadang masih diikuti oleh embel embel KOPED kalo sedang kesal dibelakangnya. Sehingga menjadi BALE KOPED Family. Untuk kepanjangan KOPED aku rasa tak elok bila harus kusebutkan kepada kalian disini, dan tak perlu dibahas lebuh lanjut karena itu terkadang bersifat sementara. hehe. Itulah kisah tentang mereka berenam kalau termasuk saya menjadi bertujuh. Persis kayak dongeng berjudul Tujuh ekor Babi tanpa serigala.

Indah ya … saya rasa kalian juga punya masa SMA yang indah yang boleh saja kalian bagikan pada saya, dan tak terasa sungguh tak terasa, rasanya baru kemaren rasanya kita semua masih menggunakan seragam putih abu-abu. Ingin rasanya mengulang setiap kisah seru saat SMA, sampai tak terasa ternyata saat ini sudah sepuluh tahun berlalu sejak pertemuan kami yang dimulai sejak SMA itu. Fina dan Hanny sebentar lagi akan menjadi Dokter yang kita tau progressnya memang panjang dan banyak tahapan tidak seperti Tahapan BCA, Rifqi sudah lulus dari menempuh ilmu Teknik Mesin dan sudah bekerja bahkan sebentar lagi katanaya ada kabar baik dari dia, demikian juga Aulia yang telah lulus dari Teknik Sipil dan mulai bekerja di Medan ,lalu Haris yang juga sudah tamat dari Arsitek dan harus tinggal di Bintaro dan juga Dewi yang setelah lulus dari Akuntansi sempat kembali ke medan tampaknya sekarang akan merantau kembali dan bekerja di Jakarta . Saya sendiri, masih berada di jalur yang panjang, karena masih berkutat di Bandung melanjutkan kuliah saya lagi demi menyandang gelar seorang Magister Desain.

IMG_9088

Gambar 7. foto diambil di sebuah salon yang lagi tutup agar tidak disuruh nyalon oleh yang punya salon

Tentu semuanya sudah punya kesibukan masing-masing, tentu semuanya juga sudah ada yang berubah, dan tentu agak tidak menyangka juga kalau ternyata persahabatan kami ini bisa awet selama ini, dan mungkin akan tetap berusaha kami pelihara sepanjang hidup kami. Untuk saat ini setidaknya selama sepuluh tahun dimanapun kami berada, bila bisa bertemu kami pasti mengusahakan bisa selalu bertemu. Itu sudah terbukti, sampai saat ini tapi entahlah bagaimana kalau diantara kami nanti sudah pada punya anak .. semoga sih kami akan bisa tetap bersama hingga punya anak cucu. Aamiin.

Seperti sebuah nama pasar swalayan di Medan, kami pun akan Maju Bersama….Hidup Sujuya , Hidup Haipermat ,Hidup Kerfur dan hidup Sun Swalayan.

sampai kita berbagi lagi.

(tamat dulu).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *